IKA PMII BACA PUISI, Mendadak Menjadi Ahli Deklamasi

Membaca puisi bersama.
Gus Din, Cak Ud, Mas Hamka, dan saya.
Pak Zen, Mas Suluh dan mas Hayyan serta istrinya.
Membaca puisi di kantor PMII di kota Malang Raya.
Mendadak berdiklamasi menjadi seperti WS. Rendra.
Sungguh indah sudah lama tidak datang di Panjaitan 164 Malang kota.
Datang kemudian baca puisi dengan nada-nada seenaknya.

Puisi yang dibaca.
Sesuai dengan karakternya.
Cak Ud baca puisi love atau cinta.
Indah sambil mengingat masa muda.
Katanya sering pergi dari cinta ke cinta lainnya.
Begitu juga mas Hamka yang cerita cinta teman tidurnya.
Maunya sih membully dan membuka nostalgia rahasia.
Siapa-siapa yang dulu pernah ditaksir tetapi tidak jadi realita.
Gus Din baca tentang IKA PMII organ alumni PMII semua.
Dengan suara lantang seperti Bong Soekarno dan Bung Hatta.
Lengkap sudah baca puisi gegerkan seluruh dunia.
Suara menggema diiringi guitar dengan nada mempesona.

Inilah bukti.
PMII tetap punya eksistensi.
Biar sudah jadi kategori alumni.
Seharusnya sudah masuk IKA PMII.
Tapi tetap semangat muda tanpa akhir henti.
Konsolidasi dengan semangat penuh nilai tinggi.
Bangun kekuatan dan solidaritas untuk kuasai negeri.
Menjadi sahabat yang tidak pernah akan pisah lagi.
Meski beda profesi dan juga banyak beda orientasi.
Semua saling mengkuatkan tidak akan disintegrasi.
Biar ada yang jadi pengacara, dosen, pedagang, dan politisi.

Sahabat-sahabat PMII sejati.
Usai bertemu dan membaca puisi.
Terus kita rencanakan bertemu lagi.
Insyaallah segera bertemu di UIN Maliki.
Menguatkan solidaritas dan saling emphati.

Malang, 14-04-2018
‘Abd Al Haris Al Muhasibiy

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *