SUARA MUWADDA’AH, Setahun Bersama Lalu Berpisah

Setahun menjadi mahasantri.
Mengaji kepada para kiyai dan bu nyai.
Dengan peraturan-peraturan yang disepakati.
Berjama’ah dan menyuci serta mandi sendiri.
Berhemat uang untuk menjadi mandiri seperti para kiyai.

Banyak sudah gita cerita.
Kenangan selama di Ma’had MSAA.
Seringkali ditegur kadang kena marah.
Biarlah semua menjadi sejarah para mahasiswa.
Memadu antara ilmu dan tradisi meraih cita-cita.
Meski sering susah dengan segala kendala.
Kini mahasantri merasa bebas dari segala jera.
Hati mahasantri tetap berada di MSAA selamanya.

Meski kami bebas dengan segala ikatan.
Namun hati kami sedih untuk sedia melepaskan.
Ma’had dengan para musyrif dan musyrifah teladan.
Beri doktrin dan ajaran yang menjadi panutan.
Mungkin tidak kami dapatkan seumur dalam kehidupan

Boleh mungkin malam ini.
Kami gembira dan bernyanyi.
Bahkan kami terlihat riang menari.
Sesungguhnya hati kami sangat sedih.
Berpisah dengan pembimbing dan juga para kiyai.
Gus Is, kiyai Badruddin, Ustadz Syuhadak, Kiyai Chamzawi.
Bu Nyai Sulalah, ustadz Aunul Hakim, dan Kiyai Muzakki.
Masih banyak para ustadz dan para kiyai tidak disebut di sini.

Terimakasih para kiyai.
Engkau semua menjadi terpuji.
Mendidik kami menjadi mahasantri.
Mengantarkan ke jalan Tuhan Ilahi Rabbi.
Menjadi sarjana bahkan menjadi ulama berkompetensi.
Melanjutkan perjuangan menata dunia menjadi lebih.

Selamat tinggal Ma’hadku.
I love you ……………………….

Malang, 28 Mei 2018
‘Abd Al Haris Al Muhasibiy

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *